ChatGPT Digugat 8 Negara Bagian AS, OpenAI Dituding Bahayakan Anak-anak

Ikon aplikasi ChatGPT pada menu smartphone bersama ikon aplikasi AI lainnya.
Ilustrasi Ikon ChatGPT di Menu HP [Foto: Zonapirasi/SR]

ZONAPIRASI.MY.ID - OpenAI, perusahaan pengembang ChatGPT, menghadapi gugatan hukum dari 8 negara bagian Amerika Serikat terkait dugaan dampak negatif penggunaan chatbot kecerdasan buatan tersebut terhadap anak-anak dan pengguna rentan.

Gugatan itu menyoroti aspek keselamatan pengguna, perlindungan konsumen, serta dugaan penyampaian informasi yang menyesatkan mengenai keamanan layanan AI.

Gugatan tersebut diajukan secara terpisah di pengadilan negara bagian pada Rabu (14/10/2026).

8 negara bagian yang terlibat adalah Iowa, Kansas, Nebraska, West Virginia, Arkansas, Arizona, Idaho, dan Montana.

Dalam dokumen gugatan, para pejabat negara bagian menuduh ChatGPT dapat memperkuat keyakinan yang tidak berdasar, mendorong perilaku berbahaya, serta membantu pengguna merencanakan tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Selain itu, mereka juga menyoroti dugaan interaksi chatbot dengan pengguna remaja yang dinilai belum mendapatkan perlindungan yang memadai.

{baca juga} $="/2026/10/komdigi-perlindungan-anak-era-ai-pp-tunas.html" title="Komdigi Perkuat Perlindungan Anak di Era AI, Ini Perkembangan PP TUNAS"

Para penggugat menilai, OpenAI telah melanggar undang-undang perlindungan konsumen di negara bagian masing-masing karena diduga memberikan gambaran yang menyesatkan mengenai keamanan ChatGPT.

Mereka juga mempertanyakan desain chatbot yang dinilai terlalu menyetujui pengguna dan mampu menampilkan respons seolah-olah memiliki empati manusia.

Menurut klaim dalam gugatan, karakteristik tersebut berpotensi membuat pengguna lebih mudah mempercayai respons chatbot, termasuk ketika membahas persoalan sensitif.

Para pejabat juga menyinggung dugaan pemberian saran medis yang berbahaya dan respons yang berkaitan dengan tindakan menyakiti diri sendiri.

Selain keselamatan anak, sejumlah gugatan turut menyoroti persoalan pengumpulan dan perlindungan data pribadi pengguna di bawah umur.

Para penggugat meminta pengadilan menilai apakah praktik OpenAI telah memenuhi ketentuan hukum yang berlaku, termasuk aturan mengenai perlindungan konsumen dan privasi.

{baca juga} $="/2026/10/fitur-hp-android-yang-jarang-diketahui.html" title="7 Fitur HP Android yang Jarang Diketahui dan Berguna untuk Aktivitas Sehari-hari"

Tuntutan yang diajukan mencakup perubahan terhadap cara kerja ChatGPT, penerapan perlindungan yang lebih kuat bagi pengguna anak, serta sanksi finansial atas dugaan pelanggaran hukum.

Sejumlah negara bagian juga meminta pembatasan pengembangan atau pengujian model AI yang mampu meningkatkan kemampuannya sendiri sampai persyaratan keselamatan tertentu dapat dipenuhi.

Langkah hukum ini menambah tekanan terhadap OpenAI, yang sebelumnya juga menghadapi gugatan dari sejumlah pihak swasta terkait dugaan keterlibatan ChatGPT dalam kasus yang berhubungan dengan tindakan menyakiti diri sendiri dan kekerasan.

Pada Juni 2026, jaksa agung Florida juga telah mengajukan gugatan terhadap perusahaan tersebut atas tuduhan serupa.

Menanggapi gugatan terbaru itu, juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, menyatakan kepada The Verge bahwa perusahaan telah menerapkan perlindungan berdasarkan usia dalam produknya.

Ia mengatakan, OpenAI akan terus bekerja sama dengan para ahli untuk mengembangkan perlindungan tambahan.

Pusateri juga menyebut sejumlah fitur yang telah tersedia, termasuk kontrol orang tua, pengingat untuk beristirahat, serta perlindungan model yang disesuaikan dengan usia pengguna.

Menurut OpenAI, perusahaan berkomitmen bekerja sama dengan pemerintah negara bagian untuk mendorong kebijakan AI yang dapat diterapkan secara praktis di industri.

Hingga laporan mengenai pengajuan gugatan tersebut diterbitkan, tuduhan yang diajukan 8 negara bagian itu belum merupakan putusan pengadilan yang menyatakan OpenAI bersalah.

Proses hukum selanjutnya akan menentukan bagaimana pengadilan menilai klaim para penggugat dan tanggapan perusahaan.

Perkara ini menjadi bagian dari perdebatan hukum yang lebih luas mengenai tanggung jawab perusahaan teknologi dalam mengembangkan kecerdasan buatan, terutama ketika produknya digunakan oleh anak-anak dan remaja.

{baca juga} $="/2026/10/cara-mengembalikan-chat-whatsapp-terhapus.html" title="Cara Mengembalikan Chat WhatsApp yang Terhapus Tanpa Kehilangan Data Lain"

Fokus gugatan tersebut mencakup keamanan chatbot, transparansi kepada konsumen, perlindungan data, serta kewajiban perusahaan untuk mengurangi risiko yang mungkin timbul dari penggunaan teknologinya.

(End)

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator itu sendiri.

Lebih baru Lebih lama