Wisata Religi Sejarah Islam di Aceh: Mengunjungi Makam Ulama dan Sultan

Komplek makam Syeikh Abdurrauf As-singkili yang juga dikenal Syiah Kuala
Komplek Makam Syiah Kuala [Foto: dok. budayaaceh.com]

Zonapirasi.my.id - Aceh tidak hanya dikenal sebagai pintu gerbang masuknya Islam ke Nusantara, tetapi juga menyimpan banyak peninggalan sejarah Islam yang otentik dan masih terawat hingga kini.

Bagi Anda yang menyukai sejarah lokal dan merencanakan perjalanan wisata religi, mengunjungi situs-situs bersejarah ini adalah langkah terbaik untuk mempelajari rekam jejak penyebaran agama Islam di Serambi Mekkah.

Berbeda dengan sekadar membaca literatur, melihat langsung bukti arkeologis dan arsitektur pada situs sejarah dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif.

{baca juga} $="/2021/08/inilah-alasan-aceh-dan-yogyakarta-menjadi-daerah-istimewa.html" title="Inilah Alasan Mengapa Hanya Aceh dan Yogyakarta Yang Menjadi Daerah Istimewa"

Berikut adalah daftar destinasi wisata religi faktual berupa makam tokoh-tokoh sentral penyebar syariat Islam di Aceh yang bisa dimasukkan ke dalam daftar kunjungan Anda.

{tocify} $title={Daftar Isi}

1. Makam Sultan Iskandar Muda (Banda Aceh)

Komplek makam Sultan Iskandar muda
Komplek makam Sultan Iskandar Muda [Foto: dok. Indonesia.travel]

Terletak di sebelah Komplek Meuligoe atau Pendopo Gubernur Aceh di pusat Kota Banda Aceh, tempat ini merupakan lokasi peristirahatan terakhir Sultan Iskandar Muda.

Beliau adalah sultan yang memimpin Kesultanan Aceh Darussalam menuju puncak kejayaannya pada awal abad ke-17 (1607–1636 M).

Tempat itu berdampingan dengan bangunan bersejarah peninggalan kesultanan lainnya, seperti Museum Aceh dan Gunongan.

Situs ini menjadi bukti nyata kekuatan politik, ekonomi, dan agama Kesultanan Aceh yang sangat disegani di jalur perdagangan Selat Malaka pada masanya.

2. Makam Syiah Kuala (Banda Aceh)

Makam Syiah Kuala di Banda Aceh
Komplek Makam Syeikh Abdurrauf As-singkili atau juga disebut Syiah Kuala. [Foto: dok. budayaaceh.com]

Tengku Syiah Kuala memiliki nama asli Aminuddin Abdurrauf bin Ali Al-Jawi, dikenal juga sebagai Syekh Abdurrauf As-Singkili.

Beliau adalah seorang ulama besar sekaligus mufti Kesultanan Aceh yang makamnya berada di pesisir pantai Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Dalam catatan sejarah, beliau meninggalkan warisan intelektual yang sangat berharga berupa puluhan kitab rujukan, termasuk Tarjuman al-Mustafid yang merupakan terjemahan dan tafsir Al-Qur'an pertama di Nusantara.

Komplek makam beliau selalu ramai dikunjungi oleh peziarah yang ingin napak tilas perjuangan keilmuan sang ulama.

{baca juga} $="/2022/03/mengenal-masjid-raya-baiturrahman-simbol-perjuangan-dan-kekuatan-masyarakat-aceh.html" title="Mengenal Masjid Raya Baiturrahman, Simbol Perjuangan dan Kekuatan Masyarakat Aceh"

3. Makam Sultan Malikussaleh (Aceh Utara)

Komplek Makam Sultan Malikussaleh
Komplek Makam Sultan Malikussaleh. [Foto: dok. CISAH via Mapesa Aceh]

Beralih ke wilayah pesisir Timur, tepatnya di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, disana terdapat situs makam Sultan Malikussaleh.

Sultan Malikussaleh adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Islam Samudera Pasai, yang tercatat sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Nisan makam beliau memiliki ukiran kaligrafi Arab kuno yang menjadi objek penelitian arkeolog dari berbagai negara.

Keberadaan situs ini memperkuat bukti historis, termasuk catatan pengembara maroko Ibnu Batutah mengenai eksistensi peradaban Islam awal di Aceh Utara pada abad ke-13.

4. Makam Pahlawan Nasional Teungku Chik Di Tiro (Aceh Besar)

Komplek makam Pahlawan Nasional, Tgk Chik di Tiro
Komplek makam pahlawan nasional, Tgk. Chik di Tiro. [Foto: dok. Wikipedia/Sigam]

Muhammad Saman, atau yang lebih dikenal dengan Teungku Chik Di Tiro, adalah seorang ulama besar yang memimpin Perang Sabil melawan kolonialisme Belanda.

Makam beliau berlokasi di kawasan Gampong Mureu, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar.

Situs ini menjadi pengingat sejarah bahwa ulama di Aceh pada masa lampau tidak hanya berfokus pada pendidikan di dayah atau pesantren, tetapi juga turun langsung memimpin perjuangan fisik untuk mempertahankan kedaulatan tanah air dari penjajahan asing.

{baca juga} $="/2022/01/sejarah-kerajaan-jeumpa-kerajaan-islam-pertama-di-nusantara.html" title="Sejarah Kerajaan Jeumpa, Kerajaan Islam Pertama di Nusantara"

Kesimpulan

Melestarikan dan mengunjungi situs-situs peninggalan ulama dan sultan di Aceh merupakan langkah penting dalam merawat ingatan kolektif masyarakat.

Keberadaan makam tokoh-tokoh bersejarah ini menjadi literasi fisik yang membuktikan kejayaan peradaban Islam dan kuatnya nilai-nilai historis lokal yang patut terus dipelajari oleh generasi mendatang.

(zp/sr)

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator itu sendiri.

Lebih baru Lebih lama